Follow Us @soratemplates

Tampilkan postingan dengan label Semacam Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semacam Cerita. Tampilkan semua postingan

30/10/13

Jika Isterimu Psikolog

18.02 2 Comments
--- saya juga nggak percaya nulis kayak gini. Tapi Alhamdulillah tulisan saya di posting di tumblrnya Masgun, ini adalah project yang nggak ada datelinenya. Hahaa.




Jika Istrimu Seorang Psikolog

Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama kali ingin aku sampaikan. Satu hal yang aku ingin agar kamu tahu, paham, dan selalu ingat. Bahwa aku, tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bisa memahamimu hanya jika kamu menunjukkan kepadaku apa yang harus aku pahami. Kita berdua dahulunya orang yang saling tidak mengenal bukan? Jika suatu hari aku belum paham tentang jalan pikiranmu, perasaanmu, persepsimu terhadap sesuatu, keinginanmu. Tolong bersabar, pemahaman butuh waktu. Jika kau bersabar, aku akan setia belajar.

Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai isterimu, satu hal yang aku minta kepadamu. Support, dukungan, motivasi, sudut pandang positif, afeksi. Apapun itu istilahnya. Yang aku inginkan bahwa kamu paham, aku juga manusia biasa yang kadang lemah, kadang murung,  bad mood, down, kecewa, putus asa, kadang bisa kesal dan marah. Dan jika itu terjadi, aku ingin kau selalu hadir disisiku. Nyata ataupun maya. Membantu memperbaiki moodku, meluruskan niatku, memotivasi jiwaku, meredakan amarahku, menerangi kebingunganku. Sekecil apapun itu, aku akan sangat berterima kasih.

Jika suatu hari nanti kamu menemukanku sebagai isterimu, jangan pernah mengatakan ‘kamu kan psikolog!, harusnya…”. Aku tahu tentang perkembangan manusia, perkembangan yang berakibat baik dan buruk. Jika perkembangan itu dimulai dari masa dewasa, masa ketika aku kuliah Psikologi. Maka aku yakin aku bisa menjadi manusia yang sempurna untukmu. Tetapi sayang, perkembangan manusia itu dimulai dari sejak kita bayi. Tentu aku mengalami masa-masa buruk, masa-masa yang tidak terlalu mendukung perkembanganku. Masa-masa yang kadang traumatis dan menyedihkan. Masa-masa yang menyisakan unfinish business  dan memberi bekas padaku hingga saat ini. Jangan pernah katakan ya?

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu. Maukah kau mendengarkan konsep-konsep kehidupan berumah tangga yang aku pelajari dan aku pahami? Mendengarkan saja dulu. Tentang komunikasi yang akan kita terapkan, tentang fungsi dan peran masing-masing diri dalam rumah tangga, tentang aturan-aturan yang harus kita jaga dan patuhi. Dan yang paling utama adalah bagaimana kita mengkonsep dalam mendidik anak. Tentu aku punya pertimbangan secara psikologis dalam semua hal itu. Untuk itu aku membutuhkanmu untuk mendengarkan. Karena aku paham, yang menjalani rumah tangga ini bukan aku, tapi kita. Pun ketika kamu memiliki konsep konsep yang lain, aku sangat mau untuk mendengarkannya.

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu nanti. Tolong jangan terganggu dengan orang-orang yang senang curhat kepadaku. Mereka yang menelpon tengah malam, yang tiba-tiba datang kerumah. Diantara mereka ada yang mungkin klien yang  tidak aku kenal. Namun, diantara mereka mungkin juga teman-temanku sendiri. Diantara mereka, ada yang perempuan juga ada laki-laki. Untuk kau tahu, jika dalam dunia psikologi ada kode etik yang tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan masalah klien, tetapi jika klien itu teman sendiri? Atau teman sendiri yang tidak mendaftar resmi sebagai klien tetapi meminta nasihat sebagai teman yang kebetulan psikolog? Maka tolong bersabar, jangan terganggu. Aku ingin kamu selalu ada disitu, untuk selalu mengingatkanku.

Jika suatu hari kamu menemukanku sebagai isterimu. Bolehkah aku tinggal dirumah saja? Mendirikan biro konsultasi dengan klien yang sangat terbatas sebagai janji profesiku, karena Aku ingin selalu hadir dalam setiap perkembangan anak-anak kita. Aku ingin selalu ikut campur dalam mengajari moral, emosi, sosial dan intelektual.  Bolehkah aku menjadi guru utama anak-anak kita? Maksudku, mungkin ini sedikit ekstrim. Bolehkan anak-anak kita sekolah di rumah saja? Bersamaku? Jika nanti anak-anak kita berontak dan ingin bersekolah bersama teman-temannya, bisa kita pertimbangkan bukan untuk menyerahkan seluruh perkembangan anak ke lembaga sekolah, tapi hanya untuk perkembangan sosial saja. Aku tidak terlalu berhasrat memiliki anak brialian. Sorry for that. Aku sangat berhasrat agar anak kita memiliki kematangan emosi dan pertimbangan moral yang baik. Aku sudah mempelajari caranya, itu bisa dilatih. Tentu dengan dukungan dan restumu. Jika nanti anak kita tumbuh brilian, itu adalah bonus dari Allah.

Jika kamu menemukanku sebagai isterimu, ketika kita memiliki anak-anak kecil dan remaja, bolehkan kita tinggal di pinggir kota saja? Tidak masalah tinggal di tempat seperti apa. Kota, bagiku tidak baik untuk perkembangan sosial anak kita.

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu, aku ingin kita selalu memiliki waktu, untuk saling memeluk dan diam untuk beberapa saat. Agar aku selalu merasakan keberadaanmu, kaupun selalu merasakan keberadaanku. Dan merasakan detak jantung kita menjadi satu.

28/10/13

Tata Sukma Mulia (bag. 6-selesai)

05.00 0 Comments

Setelah bekerja di Pabrik mbak Tata baru merasakan ‘hidup’ lagi, meskipun dipekerjakan secara rodi, tetapi mbak Tata merasa sangat bersyukur. Masalah-masalah yang harus dia hdadpi di Pabrik baginya merupakan tantangan yang mengasyikkan. Sejatinya, mbak Tata lebih menyukai tantangan daripada rutinitas. Itu mengapa ia mau-mau saja disuruh memegang empat sektor sekaligus. Ketika mbak Tata dituduh merebut kekayaan keluarga suaminya, sebenernya mbak Tata tidak terlalu ambil pusing. Tetapi ternyata ada karyawan yang peduli terhadapnya, karyawan itu adalah pak Sadiman yang memang orang paling tua di pabrik. Pak Sadiman orangnya sederhana dan bersahaja, sering memberi wejangan dan guyonan kepada karyawan-karyawan lain. Ada salah satu wejangan dari Pak Sadiman yang akhirnya menjadi bibit TSM ini. “Dulu saya diwajangi pak Sadiman kayak gini, sopo akon kowe kudu dadi wong kuat nduk? Deloken pagawemu sing neng kene. Kabeh ngajeni kowe, kabeh wis nganggep kowe koyo keluargane dewe. Nduk, ning donya pancen ra suwe. Yen kowe reti, manungsa iku artinne manunggaling rasa. Dadi rosomu kui ojo mbok nggu dewe. Baginen karo liane. Yen siji liane manungso mangerteni opo janjane manungso iku, ora bakal ono uwong sing kewirangan. Nduk, kowe ora perlu dadi wong kuat” (dulu saya mendapatkan nasihat dari pak Sadiman seperti ini –siapa suruh kamu harus menjadi orang kuat, nak? Lihatlah sekitarmu, semua karyawan menghormatimu, menganggapmu sebagai keluarga sendiri. Kita di dunia ini memang sebentar, nak. Jika kamu tau falsafat tentang manusia yaitu menyatunya rasa,jadi apa yang kamu rasakan tidak boleh kamu rasakan sendiri, karena seharusnya semua manusia juga merasakan. Jika manusia satu sama lain mengetahui apa hakikat manusia itu, maka tidak akan ada manusia yang menderita. Nak, kamu tidak perlu hidup sekuat itu).


Dari sinilah pemikiran TSM itu ada. Agar semua orang tau, selayaknya manusia, kita tidak harus hidup sekuat itu.


Ya, melihat bagaimana kehidupan ini berjalan. Semua orang seakan berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan. Mengumpulkan uang, harta, menyekolahkan anak di tempat yang bagus, membeli kendaraan, memperbagus rumah. sepertinya semua orang hidup sendiri-sendiri dan lupa dengan yang lain karena fokus dengan hal tersebut. Maka jika ada masalah, juga merasa bahwa masalah itu adalah masalahnya sendiri, diselesaikan sendiri. Makhluk sosial sepertinya sudah kehilangan arti. Lihat bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya sekarang. Mengikutkan semua keterampilan, les ini itu agar bisa ini itu. mempersiapkan anak-anaknya untuk multitasking, dengan dalih mempersiapkan anak untuk menghadapi masa depan. Semakin terampil dan semakin multitasking seorang anak, maka (mungkin) masa depannya akan semakin baik.


Mbak Tata pernah guyon, mengajarkan anak semua keterampilan itu oke-oke saja kalau kita punya rencana mengirimkan anak  ke planet Mars sendirian, dan disana belum ada orang sama sekali. Krisis ini yang ingin disampaikan mbak Tata. Kita di dunia, hidup dengan manusia, banyak manusia. Kita harus percaya bahwa untuk bisa memakai baju kita tidak perlu belajar menjahit atau menenun kain. Kita bisa mempercayakan kepada orang lain. Percaya kepada orang. Kepercayaan satu sama lain akan semakin luntur dari bumi ini jika saja perilaku ‘mengejar prestasi dan berkompetisi’ terus diandalkan. Kita manusia, kita tidak perlu seterampil itu. kita tidak perlu sekuat itu. karena kita manusia: sosial. 

27/10/13

Tata Sukma Mulia (bag. 5)

05.00 0 Comments

Sebenarnya, cerita panjang lebar itu hanyalah pengantar. Latar belakang saya menulis ini adalah karena pembicaraan sengaja tidak sengaja dengan mbak Tata.  Hari itu minggu sore, minggu kedua bulan oktober. Seperti biasa itu adalah hari  pertemuan anggota TSM. Acaranya sharing dan outbond kecil-kecilan. Karena saya ada acara sendiri, sehingga tidak bisa ikut acaranya dan baru bisa menyusul sore harinya. Itupun ngepasi beres-beres. Acara diadakan di saung tengah sawah milik teman mbak Tata. Ada empat saung didirikan diatas sekitar enam patok sawah. Dua patoknya dijadikan kolam ikan. Karena belum masuk masa tanam, banyak sawah yang kosong belum ditanamai. Tempat ini sangat representatif untuk outbond dan leha-leha. 


Ketika saya baru sampai ke tempat itu, kegiatan sudah hampir selesai. Peserta berkumpul membuat lingkaran dan saling memberikan kesan dan pesan untuk kegiatan yang barusaja dilaksanakan. Saya ikut nimbrung saja dibelakang. Kemudian setelah itu acara ditutup dengan doa dan yel-yel. Meskipun acara telah selesai, masih ada aja yang curhat ke mbak Tata dan ngobrol sana sini sambil membantu mbak Tata ngeberesin peralatan. Perlu waktu sampai sekitar setengah jam lebih hingga pada akhirnya semua peserta pulang. Tinggallah saya dan mbak Tata dan dua fasilitator lain yang ada di saung. Menunggu mas Anton jemput dan membawakan peralatannya. Sebenernya peralatannya tidak terlalu banyak, dan bisa kita bawa sedikit-sedikit dengan motor, tapi mbak Tata tidak membolehkan. Nggapain repot, kan ono mas Anton sing ngowo pick up. Begitulah, pada akhirnya kami selalu ada waktu leha-leha, cerita-cerita nungguin pick up mas Anton datang. Mungkin bagi fasilitator yang pengalaman hidupnya masih kacangan kayak kita-kita, mendengar cerita dari mbak Tata adalah suatu hal yang sangat berharga.



Di saung tengah sawah, sore hari dan semilir. Mbak Tata bercerita tentang ide pembuatan TSM ini. Diawali dengan sedikit cerita beratnya hidupnya pada waktu menikah. Mbak Tata mengatakan bahwa hal yang paling berat ketika kita menemui masalah adalah bukan karena besarnya masalah itu. Tapi karena kecilnya atau tidak adanya dukungan dari orang dekat. Saat itu, bagi mbak Tata, hal paling berat bukanlah menikahi orang kaya gagu yang tidak dikenalnya, tetapi karena keluarga yang seharusnya menyokongnya justru malah seperti menjerumuskannya. Ditambah lagi perlakuan dan pengekangan dari keluarga suaminya. Mbak Tata merasa hidupnya sudah selesai, tidak ada harapan lagi. “saat itu adanya ya pasrah, berdoa ya berdoa, tetapi semua seperti tidak ada rasanya”, kata mbak Tata. 

26/10/13

Tata Sukma Mulia (bag. 4)

05.00 0 Comments

Tanpa diduga, kepulangan mbak Tata ke rumah justeru ditanggapi dingin oleh orang tuanya. Mereka marah dan menganggap mbak Tata tidak becus ngurus suami, tidak becus berumah tangga. Orang tua mbak Tata tidak pernah tahu keadaan mbak Tata ketika di rumah suaminya. Aku sendiri mengurut dada mendengar cerita itu. dan ya, mbak Tata orang  yang sangat kuat. Tanggapan dingin dari orang tuanya tidak terlalu membuat mbak Tata pusing atau down. Dia sudah biasa diperlakukan seperti itu di keluarga suaminya. Mbak Tata merasa bahwa bagaimanapun dirumah sendiri jauh lebih baik daripada harus berada disana. Setidaknya, mbak Tata tidak dikurung dan bebas melakukan kegiatan di luar rumah.


Bekerja di pabrik tekstil ternyata membawa keuntungan sendiri bagi mbak Tata. Dia menjadi tau banyak tentang dunia produksi dan perdagangan tekstil. Dengan modal ini, kemudian mbak Tata memulai usaha membuat konveksi kecil-kecilan, sebelumnya dia menghubungi beberapa saudara dan teman yang dipercayanya –termasuk rekanan bisnis yang mbak Tata kenal ketika dipabrik- untuk menanam modal untuk konveksinya. Dengan sistem itu mbak Tata bisa membuka konveksi tanpa perlu banyak berhutang.


Konveksinya kini sudah 4 tahun berjalan. Memang tidak besar, tetapi pasaran produk mbak Tata adalah orang-orang ‘the have’ jadi keuntungan yang didapatkan berlipat-lipat. Sampai sekarang mbak Tata juga belum menikah lagi. Kegiatannya selain di konveksi ya di TSM ini. Dan mas Anton, semua volunteer dan anggota TSM tau, lelaki yang lebih muda 4 tahun dari mbak Tata ini menyimpan rasa dengan mbak Tata. Sepertinya tinggal menunggu waktu saja bagi mereka untuk menikah. Dan itu harapan semua orang di TSM. Lagipula, mas Anton ini orang dinas kabupaten, sudah mapan, lumayan ganteng, dan sangat baik.

25/10/13

Tata Sukma Mulia (bag. 3)

05.00 0 Comments

Pabrik tekstil yang katanya terbesar seasia tenggara itu nyatanya juga nggak hebat-hebat amat. Karyawannya memang banyak, sekitar 800an. Tetapi pengelolaan yang buruk, pekerja yang dieksploitasi bekerja sekeras mungkin dengan gaji seminim mungkin membuat banyak pekerja yang melarikan diri. Tahun kedua pasca pernikahan mbak Tata, pegawai yang bekerja di sana menurun drastis hingga kurang dari 100 orang. 20 diantarnya bekerja di bagian administrasi. Pabrik keluarga suami mbak Tata diujung kebangkrutan. Keadaan itu membuat keluarga suami mbak Tata menjadi awut-awutan, semakin kacau dan banyak pertengkaran. Saat itu juga akhirnya mbak Tata memberanikan diri dan menawarkan diri untuk  ikut bekerja di pabrik. Mbak Tata berdalih bahwa dia adalah lulusan Psikologi dan tau bagaimana mengatur karyawan dan perusahaan. Sangking kepepetnya keadaan itu, akhirnya keluarga suami mbak Tata mengijinkan mbak Tata untuk bekerja di pabrik. Dengan syarat, tanpa gaji. Bagian administrasi yang hanya berjumlah 20 orang tadi dipotong hanya menjadi 12 orang. Mbak Tata memegang 4 bagian/sektor sekaligus.
Bagi Mbak Tata keadaan ini jauh lebih menyenangkan daripada harus dikungkung didalam rumah melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ternyata Mbak Tata memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengatur orang dan perusahaan. Sedikit demi sedikit per sektor diperbaiki. Hingga tahun kelima, pabrik tekstil itu kembali meraih kejayaannya. Waktu tahun pertama bekerja mbak Tata sudah hamil, dan pada tahun kelima mbak Tata sudah memiliki 2 anak. Keadaan rumah tangga mbak Tata tetap dingin, justru mbak Tata menganggap orang-orang di pabriklah yang menjadi keluarganya.
Namun, lagi-lagi berurusan dengan orang yang oportunis. Setelah pabrik kembali stabil, mbak Tata diceraikan oleh suaminya. Bagi mbak Tata itu bukan  masalah besar, mbak Tata tidak pernah mencintai suaminya. Namun yang menyakitkan adalah mbak Tata difitnah dan dituduh ingin merebut kekayaan keluarga suaminya, lagi hak asuh anak ada ditangan suami dan mbak Tata tidak boleh menemuinya. Akhirnya mbak Tata dipulangkan  ke rumahnya di boyolali, tetap tanpa membawa pulang uang sepeserpun. 

24/10/13

Tata Sukma Mulia (bag. 2)

05.00 0 Comments


Cerita tentang pribadi Mbak Tata sendiri tidak kalah menarik. Mas Anton adalah dalang utama mengapa cerita tentang mbak Tata diketahui banyak orang. Tapi toh, mbak Tata tidak keberatan dengan itu. Mbak Tata merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya guru, satu PNS, satu wiyata bhakti. Kakaknya perempuan, menikah dengan seorang laki-laki yang ngakunya juragan. Pernikahan anak pertama diselenggarakan begitu megah untuk ukuran orang desa. Perhitungannya, kakak mbak Tata yang bekerja sebagai administrasi kantor dan suaminya yang juragan pasti akan membantu keuangan keluarga dan membantu membiayai sekolah adik-adiknya. Untuk itu orang tua Mbak Tata berani hutang banyak ke Bank. Tapi apes, bahkan ketika berumah tanggapun suami dari kakak  mbak Tata belum bisa membeli rumah. Kakak mbak Tata tinggal dengan mertua. Dan ya, ternyata juragan juga tidak menjamin kaya atau sejahtera. 3 bulan setelah pernikahan, kakak mbak Tata pulang untuk meminjam uang dan beras. Alang kepalang membayar hutang, orang tua mbak Tata menjual sawah yang hanya secuil dan sepeda motor untuk menutupi hutangnya di bank. Itupun masih belum cukup karena biaya kuliah mbak Tata dan kedua adik yang masih SMA dan SMP juga banyak. Yang terjadi hanyalah, gali lobang tutup lobang. Dan semakin lama lobang yang digali dan di tutup bukan semakin mengecil malah semakin melebar.



Pada usia 23 tahun Mbak Tata lulus kuliah. Pada usia itu pula ia dipaksa menikah dngn laki-laki yang bahkan tidak dikenalnya. Mbak Tata dijodohkan oleh laki-laki pilihan orang tuanya. Laki-laki itu asalnya dari Sukoharjo, konon dia adalah anak konglomerat yang memiliki pabrik tekstil terbesar se Asia Tenggara. Perjanjiannya adalah, keluarga calon suami Mbak Tata akan melunasi semua hutang, membiayai semua kebutuhan pernikahan dan menjanjikan mbak Tata hidup enak.



Hari pernikahanpun tiba, dan itulah hari pertama mbak Tata melihat langsung calon suaminya. Karena selama perkenalan oran tua calon suaminya yang datang ke rumah mbak Tata, dan hanta membawa foto dari calonnya itu. wajahnya memang putih, tinggi meskipun agak kurus tapi tetap tampan seperti yang di foto. Tetapi yang membuat mbak Tata kaget adalah bahwa ternyata lelaki ini sedikit gagu, untuk bicara saja sulit dan sepatah kata sepatah kata, serta kemampuan komunikasi yang juga lemah. Kadang tidak nyambung tentang apa yang ditanyakan dengan apa jawaban yang diberikan. Kemudian, ketika berbicara pandangan matanya tidak pernah mengarah pada si yang mengajak bicara. Melihat keadaan itu, Mbak Tata merasa keberatan dan meminta orang tuanya untuk membatalkan pernikahaan itu. tetapi orang tua mbak Tata menolak, kepalan tanggung katanya. Mereka juga menekankan bahwa inilah satu-satunya cara menyelamatkan orang tua dari jeratan rentenir bank. Ini satu-satunya cara berbakti kepada orang tua. Mulai saat itu, mbak Tata membenci orang tuanya, ia merasa ‘dijual’ oleh orang tuanya.



Kemudia apa yang menjadi ketakutan mbak Tata terjadi juga. Dari pertama mbak Tata merasa bahwa pernikahannya hanyalah quo vadis bahwa suaminya itu laku, bisa menikah dengan wanita yang berpendidikan. Benar saja, setelah menikah mbak Tata tinggal di sukoharja dengan suami dan keluarganya. Tetapi mbak Tata tidak pernah diperlakukan sebagai isteri atau mantu. Ia diperlakukan seperti pembantu. Lebih parah, mbak Tata sering di caci, dihina dan diperlakukan kasar oleh anggota keluarga. Mbak Tata tidak pernah diberi uang pegangan sepeserpun, tidak pernah diijinkan untuk pergi kemanapun bahkan ke rumahnya sendiri di boyolali. Jika mbak Tata menolak, mereka akan mengancam mengambil kembali uang dan sawah yang sudah diberikan kepada keluarga mbak Tata. Pasca menikah, mbak Tata juga tidak pernah tinggal sekamar dengan suaminya. Ia diberi ruangan khusus yang sempit. Hanya ketika suaminya itu ‘kepengen’ saja mereka tidur sekamar.

23/10/13

Pi. (bag. 2 selesai)

22.00 0 Comments
Pi. Kemanapun dia tidak pernah lupa memakai sandal, dan  melepasnya ketika masuk rumah tentu saja. Pi memiliki banyaak mainan yg bagus2, mobil2annya komplit. Tapi othok-othoknya lah yang selalu ia bawa.



Pengantar yang cukup panjang ya dipostingan sebelumnya?  Sebenernya saya pengen bercerita tentang Pi, (2 tahun) anak tetangga yang memiliki perkembangan yang tidak sama dengan anak pada umumnya. Pi, begitu dia menyebut dirinya sendiri, memiliki perkembangan emosi yang menakjubkan.

Inilah alasanku menulis cerita si kecil Pi yang tiap hari nongkrong di rumahku. Orang biasanya akan takjub dengan anak yang luar biasa cerdas, akan terperangah jika melihat si kecil melakukan hal-hal brilian. Beginilah masyarakat Indonesia kini, sangat memuja otak, sangat memuja kecerdasan. Lihat saja sekitarmu bagaimana manusia berusaha untuk menjadi cerdas, atau berusaha agar anaknya, setidaknya… terlihat cerdas. Pi, bukan anak cerdas. Dia tidak melakukan hal-hal yang brilian, tidak bertanya hal-hal yang membuat orang dewasa di sekitarnya kebingungan menjawab, tidak melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya, tidak kreatif. Tapi Pi mampu memberikan afeksi ....

Suatu hari Pi menangis begitu keras, dia ingin sekali naik Kian Santang, kereta mini milik tetangga yang memang digunakan untuk mencari nafkah oleh si empunya. Kereta ini tiap sore berkeliling desa, tiap anak yang ingin naik harus membayar 1.000- 2.000 rupiah. Kereta ini tentu menggunakan speaker yang berisi lagu-lagu untuk menarik perhatian anak-anak.  Pi, seperti anak-anak lainya, ingin sekali bisa naik Kian Santang itu. Tapi apalah, Ibunya tidak mengijinkan. Uang yang hanya seribu dua ribu itu, ibunya tidak punya. Bapak Pi adalah buruh serabutan, apa-apa dikerjakan. Kalau malam sering mencari kepiting, ikan, atau ular di sawah.  Di daerahku pekerjaan ini disebut nyetrum, karena memang menggunakan seterum. Ibu Pi dulunya bekerja menjajakan makanan di kereta. Tetapi semenjak kehadiran Pi, sang Ibu berhenti berjualan untuk beberapa waktu, demi mengurus Pi. Pi menangis meraung raung karena tidak diijinkan untuk naik kereta mini tadi, pada akhirnya saking jengkelnya mendengar tangisan Pi mungkin, ibunya menggendong Pi menuju kereta yang notabenenya terparkir di jalan di depan rumahnya. Mendudukkan Pi di bangku penumpang dengan kasar, dan kemudian Ibu Pi ‘pura-pura’ meninggalkan Pi. Pi berhenti menangis sebentar, kemudian kembali menangis lagi memanggil ibunya ‘Ibu…. Ibu….’ Teriaknya sambil berlinang air mata. ‘Midhun bu…. Midhun….’ (turun bu… turun) Tau Ibunya akan meninggalkannya, Pi minta turun dan memilih ikut Ibunya.

Ibunyapun merasakan dilema yang tidak mengenakkan hati, di satu sisi ia kasihan kepada Pi yang ingin bermain dengan naik Kian Santang, disisi lain ia memang tidak memiliki sepeserpun untuk membayarnya. Dilema itu membuatnya sedih dan sedikit berairmata. Ibu Pi akhirnya menjemput Pi kembali dan mengendongnya masuk rumah. Ketika melihat Ibunya kembali dan menggendongnya, tangis Pi berhenti. Pi mengamati wajah Ibunya. Di rumah, setelah Pi diturunkan dari gendongan, Pi mendekati Ibunya dan menghapus air mata ibunya, “Ibu ampun nangis. Pi mboten nakal maneh bu, Pi mboten numpang Kian Santang maneh bu… ibu ampun nangis…” kemudian Ibunya langsung menciumi Pi. Semenjak itu, Pi tidak pernah merengek ingin naik Kian Santang lagi.

Ketika beberapa hari selanjutnya, Ibu Pi sedang begitu sibuk. Pagi hari memasak cukup banyak, Pi di dudukkan disampingnya dan diminta main sendiri. “dolanan dewe ya Le, Ibu tak masak ya..” kata ibunya. Dan selama ibunya masak, Pi duduk manis di dudukannya sambil bermain sendiri. Ketika ibunya menyuruhnya mengambilkan sesuatu, ia langsung mengambilkannya. Dapur keluarga Pi ada diluar, itupun memanfaatkan bagian rumah tetangga yang sudah kosong. Rumah tetangga itu terbuat dari anyaman bambu, jadi beberapa bagian dibongkar untuk lewat dari rumah Pi. Dari teras rumahku, dapur itu terlihat. Melongok sedikit saja kami sudah bisa melihat isi dapurnya. Karena temboknya yang dari bambu, suara kecilpun dapat kami dengar dari teras. Termasuk suara ibunya yang menyuruh Pi duduk dan main sendiri. Setelah memasak Ibu Pi harus mencuci banyak, menimba dan mengisi air di dapur (karena keluarga Pi juga masih numpang sumur tetangga), nyetrika, dan melakukan pekerjaan rumah lain. Seharian ibunya Pi melakukan itu semua. Pada siang hari, Ibu Pi istirahat. Leyeh-leyeh di dalam rumahnya. Pi yang bisa dikatakan dari pagi tadi tidak bermain bersama ibunya, padahal biasanya bermain, gojekan, atau momong Pi, mendekati Ibunya dan memijiti tangan Ibunya. “Ibu kesel.. Pi pijeti ibuk…” katanya tanpa diminta dan tanpa ada yang mengajari. Kemudian ibu Pi menghujani Pi dengan sanjungan dan pujian, hingga akhirnya menyuruh Pi untuk menginjak-injak punggungnya. Orang tua kalau sedang kelelahan biasanya melakukan pijat semacam ini. Pi, DUA TAHUN!

Minggu lalu, Ibu Pi cerita. Hari sebelumnya dia dan Pi dimarahin Bapaknya karena Pi bermain kunci karatan dan dimasukkan mulut. Bapaknya memiliki perangai yang kasar dalam berkata-kata. Hingga kata-kata burukpun keluar. Ibu Pi hanya bisa menangis, begitu pula dengan Pi. Setelah bapaknya selesai marah-marah, Pi yang masih sesengukan mendekati ibunya dan menghapusi air mata ibunya dengan tangannya. “bu… ampun nangis bu, pake nakal nggih bu… ibu ampun nangis” akupun justru terharu dan ingin menangis ketika mendengar cerita ini.

Baru kemarin, ketika ibuku meminta bantuan ibunya Pi untuk membawa sekarung arang dari tetangga. Teknisnya gini, ibuku akan membawa motor, kemudian sekarung itu akan dinaikkan di jok belakang, Ibu Pi akan memeganginya dari belakang sambil berjalan karena karung arang sudah memenuhi jok, tidak tersisa tempat buat dibonceni lagi. Motor akan dijalankan pelan-pelan. Karena jarak dari tempat mengambil arang hanya sejarak lima rumah, Ibu Pi tidak keberatan dan itu cukup praktis. Ibu Pi tidak pernah terpisah dengan Pi, maka Pi juga ikut. Untuk itu, Ibuku mengakali untuk menaikkan Pi di depan. Waktu semuanya sudah diatur, Ibuku berjalan pelan-pelan dengan motor, tetapi tanpa sadar kecepatan motor itu sedikit naik. Hingga akhirnya ibunya Pi harus berlari mengikutinya, melihat itu, Pi justru menangis “ibu… ibu…. Ibu ampun mlayu…. Ibu numpak wae… ibu bonceng wae..”. Pi, bocah ra pengen ibune tatu sithik-sithiko (tidak ingin ibunya menderita sedikitpum). Komentar ibunya setelah menceritakan kejadian ini.

Pernah Pi mengadu pada Ibunya, waktu itu ia melihat Ibuku di teras rumah. seperti biasa kami selalu memanggil dari rumah masing-masing. Waktu itu ibuku tidak mendengar dan tidak memperhatikan, sehingga tidak menjawab panggilan Pi. Pi bertanya, apakah ibuku marah dengan Pi sehingga tidak menjawab panggilannya? Ibunya memberi asalan, bisa saja Ibuku tidak mendengar. Ibuku mendengar cerita itu terheran sendiri, cah cilik kok iso ngrasakne men.

Begitulah Pi, dia juga sering memberikan komentar-komentar yang entah bagaimana tercetus dari mulutnya yang seperti komentar orang dewasa yang sudah mengerti kehidupan. Unik sekali bahwa Pi sangat bisa berempati, bahkan tanpa diminta, tanpa diajari atau diberi contoh. Ibunya juga heran dan sering bertanya kepada Pi, “kowe ki sing ngajari sopo?”. Bahkan kata-kata yang terlontar seperti orang dewasa itu juga bukan kata-kata yang diajarkan orang tuanya. Pi, memiliki kematangan emosi yang lebih matang dari anak-anak usianya. Bahkan lebih matang dari orang dewasa. Pernahkah kamu merasa bersalah kepada ibumu kemudian menghaupus air mata ibumu dan minta maaf? Bahkan aku kalah dengan Pi. Yang lebih menggetarkan hati, Pi pun belum tau kalau ibu yang ia kasihi, yang sangat ia sayangi, bukan ibu kandungnya sendiri juga tidak memiliki hubungan saudara. Ibu kandungnya tidak peduli lagi keadaan Pi sekarang. Mungkin juga tidak tahu kalau anaknya tumbuh seistimewa ini.

Sebelum balik ke jogja, aku masih sempat bermain-main dengan Pi dan ibunya. Mereka memang selalu bermain di depan rumahku. Ibu Pi bercerita, “Pi ndek mau cerito ngene, buk sesuk nek gedek aku arep mendem ngeneki, karo rekake mabuk. Bar dikandani kancane bapake kono kae, nek gedhe kon mendem wae, koyo wong ndelok dangdutan kae lho” (Pi tadi bercerita, bu kalau besar nanti aku mau mabuk seperti ini, sambil terhuyung-huyung memperagakan orang mabuk. Habis dikasih tau temannya bapaknya sana itu, kalau sudah besar mabuk saja, seperti orang yang melihat dangdut).

Pi. Semoga lingkungan tidak menghancurkan kepekaan hatimu. 

Pi. (bag 1)

21.00 0 Comments



Dalam perkembangan manusia, seseorang memiliki tahapan perkembangan yang sesuai dengan usianya. Namun, dalam dunia psikologi semua hal memiliki sifat typical-untypical. Psikolog meletakkan suatu keadaan seseorang dalam kelompok-kelompok tertentu. Kita sebut saja, labbeling. Memberi label. Psikolog membagi kepribadian-kepribadian manusia menjadi kelompok-kelompok, dan memberikan label, memberi nama pada setiap kelompok itu. Psikolog menyebut seseorang itu memiliki kepribadian tipe A, seorang introvert, seorang conscientiousness, seorang koleris, seorang reserved atau outgoing dan lain sebagainya. Lebih jauh, psikolog juga memberi label kepada orang-orang yang memiliki tingkah laku yang tidak umum. Mereka memberi label ADHA, autism, Skizhophren, bipolar, OCD, atau jenis gangguan yang lain. Bagi psikolog, itu penting karena label itu berfungsi sebagai petunjuk dalam mamberikan treatment, dalam memberikan perlakuan. Tapi pada masyarakat umum, kadang label (yang seharusnya dipakai atau diketahui psikolog saja –menurutku-) dijadikan sebagai olok-olok.


Saya bukan (belum) psikolog, saya cuma mahasiswa psikologi. Untuk itu saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak memberi label kepada orang-orang yang berinteraksi dengan saya.  Tidak mendeskripsikan tingkah laku seseorang kedalam konstrak-konstrak psikologis, tidak mendikte perilaku seseorang dengan teori-teori yang saya pelajari. Bukan hanya dalam ucapan atau tingkah laku, bahkan saya melarang pikiran saya sendiri untuk melakukan hal itu. Saya lebih senang melihat seseorang sebagai pribadi-pribadi yang unik, untypical. Kelebihan dan kekurangannya merupakan kombinasi yang unik yang membentuk kepribadiannya. Itu membuatku lebih mudah menerima seseorang apa adanya, dan (semoga) itu tidak membuat seseorang menjadi takut kepadaku, hanya karena aku belajar psikologi. Tapi, bagaimanapun tentang apa yang saya ketahui, saya pelajari dan saya yakini tentu membentuk bagaimana saya mempersepsi sesuatu atau berperilaku. 


Kembali ke paragraf pertama tadi. Tentang typical-untypical. Toh, meskipun psikolog telah mengelompokkan keadaan manusia menjaga kelompok-kelompok yang rigid dari berbagai teori, tetap saja manusia adalah makhluk yang unik. Seorang extraversion dalam big five personality dapat digambarkan sebagai seorang yang sociable, fun-loving dan affectionate. Tetapi tidak mutlak seseorang yang masuk dalam kategori tersebut memiliki sifat yang sama persis dengan teori yang paparkan. Bisa saja ia memang sociable, tetapi tidak fun-loving atau dengan kadar fun-loving yang lebih rendah sehingga masuk dalam kategori sober. Bisa saja seseorang yang terdiagnosa bipolar atau manik depresif memiliki karakter yang tidak sama persis dengan DSM V atau PPDGJ.  Bahkan setiap orang dengan diagnosa yang sama memiliki catatan dan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Begitu pula (kembali pada kalimat pertama paragraf pertama) dengan perkembangan manusia. Meskipun tahapan perkembangan manusia telah dirumuskan secara rigid, multidiciplinary, multidimentional, namun harus kita ingat bahwa perkembangan manusia juga plastics dan contextual, ini bisa menjadi alasan bahwa perkembangan manusia bisa berbeda satu sama lain.

Tata Sukma Mulia bag. 1

06.00 0 Comments



Mbak Tata, kami menyebut wanita paruh baya itu . Dia adalah pencetus sekaligus fasilitator utama Tata Sukma Mulia. LSM di desa Mbutuh, Boyolali. Sebenarnya bukan LSM juga sih, karena semua pembiayaan dari mbak Tata, makanya kami para volunteer sering beranekdot LSM sebagai Lembaga Swadaya Mbak Tata.  Aku sendiri baru beberapa minggu disini, sebagai freelance volunteer. Udah volunteer, freelance lagi! LSM ini sangat menarik dan belum aku temui selain disini. Tata Sukma Mulia bukan lembaga untuk tujuan mensejahterakan anggota atau membela keadilan seperti pada umumnya. Seperti namanya, kata mbak Tata waktu memberikan pengarahan pada volunteer baru, Tata Sukma Mulia, Tata artinya menata, mengatur. Sukma artinya hati, jiwa, pikiran, mental dan sejenisnya. Mulia adalah tujuan hidup masyarakat Jawa, Urip Mulyo. Hidup dengan terhormat. Aku kira dulu nama Tata Sukma Mulia itu namanya Mbak Tata, ternyata bukan. Nama asli mbak Tata adalah Anggita Lestari,S. Psi. Tata Sukma Mulia adalah menata jiwa untuk mencapai kemuliaan hidup. Begitu kira-kira.



TSM kita singkat saja, merupakan LSM yang mendampingi para buruh di daerah Boyolali dan sekitarnya dalam masalah psikologis berbasis keluarga. Jujur aku kesulitan menjelaskannya. Karena kata psikologis bagi orang awam selalu diasosiasikan sebagai suatu gangguan mental. Tapi begini, sebagian besar masyarakat desa Mbutuh dan sekitarnya merupakan buruh pabrik garmen . Hampir 9 jam waktu mereka dihabiskan di dalam pabrik, dari pagi hingga sore dengan libur hanya satu hari dalam seminggu. Keadaan ini menjadi sangat stressfull karena tuntutan kerja yang tinggi. Sebagian dari mereka adalah Ibu dengan satu dua orang anak yang beranjak remaja, para suami biasanya berprofesi sebagai buruh serabutan, petani, atau dagang. Gaji yang diperoleh dari buruh pabrik tidak seberapa, hanya cukup untuk makan. Pun pengasilan dari buruh serabutan, bertani, atau berdagang juga pasang surut. Tidak pernah cukup untuk merenovasi rumah. Dengan tekanana kerja dan tekanan ekonomi seperti itu maka akan berpengaruh pada kondisi emosi terutama mental kedua orang tua ini. Anak yang beranjak remaja  juga membutuhkan bimbingan dan perhatian. Sedang waktu mereka bertemu dengan anak hanya sebentar, hanya ketika sore atau malam hari dan pagi hari. Kadang pagi haripun mereka tidak bertemu, karena sang ibu yang bekerja di pabrik harus berangkat jam 5 pagi. Ketika bertemupun mereka semua, ya anak ya orang tua pasti dalam keadaan lelah. Keadaan ini menjadi semakin menekan ketika ada masalah dalam keluarga, pertengkaran sering terjadi, KDRT, usir-mengusir, hingga perceraian.  Apalagi pabrik juga sering melakukan PHK seenak udelnya sendiri. Tanpa pesangon, dll. Tidak aneh jika keluarga di daerah sini banyak yang tidak harmonis, ada saja pertengkaran, ada saja masalah, ada saja kejadian kawin-cerai, anak hamil diluar nikah, suami selingkuh, mabuk-mabukan hingga beberapa kejadian bunuh diri.


Untuk itu mbak Tata yang juga warga Mbutuh dan pernah belajar Psikologi menginisiasi   TSM ini, dengan prinsip konseling keluarga. Sebenarnya pemerintah juga memiliki program yang hampir mirip. Dilunjurkan kira-kira tahun 2010 lalu. Nama programnya adalah LK3, Lembaga Konseling Kesejahteraan Keluarga. Seperti lembaga pemerintah lainnya, program ini nggak sampai ke masyarakat paling bawah, buruh. Maka TSM muncul sebagai LSM yang lepas dari pemerintah.


Program TSM dilaksanakan satu bulan sekali. Kebanyakan kegiatannya hanya senang-senang atau didalam program ditulis dengan istilah quality time family.  Artinya, kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh anggota yang mendaftar, tetapi juga oleh seluruh anggota keluarga inti yang mendaftar tadi. Jadi , anak dan suami atau isteri diajak ikut serta. Kegiatan-kegiatan kecil seperti foto bersama, outbond, makan ditaman, masak bersama atau lomba masak antar keluarga ternyata memiliki efek yang menakjubkan dalam keharmonisan keluarga. Selain itu juga ada pendampingan konseling intensif bagi yang memiliki masalah berat, sharing bersama –yang didalamnya harus ada giving affection antar anggota- , self disclose, relaksasi, latihan kendali emosi, hingga pengajian dan penyuluhan. Tidak semua kegiatan melibatkan anak atau pasangan tentu saja. 

20/07/13

Sabar

13.33 2 Comments

Postingan ini mungkin masih bisa dikaitkan dengan postingan sebelumnya yang ini. Masih dalam pertanyaan yang sama. Mengapa justeru orang yang sabar yang mendapatkan kesempurnaan pahala? Tanpa batas? Mengapa sabar? bagaimana sabar?


Adhe. Hampir setiap hari datang ke kosku, kalau tidak mengajakku bertemu di luar. Seminggu bisa 4-5 kali aku pergi atau bersama dia. Dia adalah teman lepas, artinya bukan teman dari satu tempat yang sama (tidak sekampus, seorgansasi atau yg lainnya). Jadi otomatis jika Ia tidak sengaja datang atau janjian denganku, kita tidak akan pernah bertemu. Alasan mengapa Ia begitu sering menemuiku adalah hanya karena Ia ingin curhat. Curhat apa yang setiap hari, coba? Tetapi begitulah dia. Selalu saja ada yang diceritakan, selalu saja ada masalah-masalah baru yang muncul. Kantornya, rumahnya, pacarnya, pekerjaannya, teman-temannya. Tetapi Adhe, menurutku adalah orang yang ulet, orang yang berani menyelesaikan masalah (memang ada kok orang yang bukan tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi tidak berani menyelesaikan masalah). Adhe selalu berusaha, dia selalu bertindak, dia selalu ‘menurutku’ ngurus banget jika ada sekecil-kecilnya masalah. Meskipun menurutku itu bukan masalah yang perlu dibesarkan dan jika kita abaikan saja masalah itu akan bisa dilupakan oleh semua orang. Contohnya ketika ada kesalahpahaman antara dia dengan teman kantornya. Biasa masalah sosmed. Adhe menulis sesuatu di sosmed dan teman-temannya merasa tersindir dengan tulisan itu, padahal Adhe tidak bermaksud menyindir siapapun di kantornya.


Adhe kemudian merasa diasingkan dilingkungan kerja. Ada yang berbeda dengan teman-teman kerjanya. Adhe pun menyelidiki. Dia men-stalk semua sosmed teman yang memperlakukannya sedikit berbeda. Dan ketemu! Ternyata ada yang tersinggung dengan salah satu postingan Adhe di sosmed. Akhirnya Adhe menemui satu persatu teman-temannya yang mengasingkannya secara terpisah. SATU PERSATU ditemui secara pribadi, satu persatu ditanyai mengapa mereka berperilaku berbeda terhadap dirinya, satu persatu Adhe menjelaskan letak masalah sebenarnya, satu-persatu ia mintai maaf. Aku memberi saran, kalau masalahnya sosmed ya tinggal bikin postingan baru untuk mengkonfirmasi postingan sebelumnya. Ternyata Adhe tidak mau saranku. Itu bukan cara Adhe menyelesaikan masalah. Adhe akan selalu begitu, bertindak, bertindak, bertindak. Menyelesaikan semua setuntas-tuntasnya.
Ternyata maskipun sudah dijelaskan satu-persatu, ada beberapa orang yang merasa tidak puas dan tetap bertingkah aneh.

Kurang sabar apalagi Yu aku menghadapi mereka. Ini tuh udah tak sabar-sabarin nerima perilaku mereka, udah tak sabar-sabarin untuk ngejelasin satu-persatu, aku sampe bingung Yu mau gimana lagi. Rasanya nggak nyaman banget diperlakukan seperti itu”.
Udahlah Dhe, yang pentingkan kamu udah ngejelasin letak masalahnya dengan baik-baik. Lagian juga ini  bukan salahmu kok. Mereka aja yang terlalu sensitif, suudzhon. Kamu kan memang nggak nyindir mereka? Udah untung kamu mau repot-repot jelasin ke mereka satu-satu. Kalau mereka bergeming dengan sikapnya, ya urusan dia kan?
Tapi Adhe tidak seperti itu. Hari berikutnya dia ngumpulin teman-teman yang masih memperlakukannya seperti orang asing. Adhe kembali menjelaskan, kembali menanyai mereka apa salahnya, kembali meminta maaf. Adhe mau semua selesai, setuntasnya. Dia akan selalu bertindak dan berusaha, tanpa mengeluh, tanpa protes, tanpa merasa keberatan (kecuali kepadaku, tentu saja).

Tuhan, apakah ini sabar?


***



Leana. Lebih jarang bertemu denganku. Mungkin dua minggu atau satu bulan sekali. Dia orang yang sangat santai, rame, dan sociable. “gimana udah diurus perceraiannya?” aku bertanya. Aku tau ini hal sensitif, tapi aku tau siapa Leana. Dia akan menjawab ini dengan santai.

Si bojo masih nggak mau ngurusnya. Yaudahlah...
“lah? Keluarga gimana? Gak ada yang maksa gitu buat segera ngurus?
Ya keluarga udah tau semua keadaanku sama bojoku. Mereka maunya emang kita segera cerai. Tapi gimana, bojoku kayaknya lagi asik ngurusin cewek barunya
lah, kamu masih tinggak di rumah mertua kan?”
iya…”
terus?
Ya selama mereka nggak keberatan nampung aku tidur disana ya gak masalah. Santailah. Masalah kayak gitukan nggak bisa diselesein buru-buru atau dengan marah-marah. Iya kecewa, tapi daripada aku stress ngurusin ini terus. Mending dibawa santai, di jalani dengan sabar. kalau pilihan dia kayak gitu, ya udah mau gimana? Yang penting aku kerja, bisa main, bisa ada tempat pulang, nggak stress… sabar aja ntar juga kelar masalahnya


Tuhan, apa yang ini sabar?

***


Nadia. Wanita yang sangat teguh, menurutku. Dia hanya akan minta ditemani kalau benar-benar butuh. Pendiam, teguh, tenang. Suatu malam Nadia minta aku untuk menemaninya tidur di kos. Menemani tidur di kos dalam kosakataku adalah akan mendengar banyak cerita ini itu, curhat ini itu, guyonan ini itu. Tapi Nadia berbeda, jika menemani, maka hanya menemani. Bada isya aku datang ke kos Nadia. Disana kita hanya makan, sholat, internetan, dan tidur. Nadia tidak banyak bicara, tidak banyak bercerita, dia hanya bercerita sedikit tentang organisasinya. Tapi aku tau kalau dia ada masalah dan pasti bukan masalah dengan organisasinya. Nadia adalah tipe orang yang akan menyimpan masalahnya sendiri. Ketika ia tidak tahan dengan masalahnya sampai tahap ‘rasanya ingin menangis terus’ dia hanya ingin ada orang disampingnya menemani malam harinya. Karena, jika tidak ada yang menemaninya di malam hari, maka dia akan nangis terus-terusan sampai tidak tidur. Aku sering kehilangan cara agar Nadia mau membuka diri dan menceritakan masalahnya.


Jam 10 malam Nadia sudah merapikan kasurnya untuk tidur, dalam hitungan sekian detik ia sempat melamun, dan kuambil kesempatan itu untuk menembak masalahnya, memaksanya membuka diri. 

“rumah lagi ada masalah ya?”
Dia melihatku agak lama, lalu senyum kecil.
“kenapa kamu nggak bilang ke ayahmu kala..u….”
“enggak Yu, aku nggak pengen jadi beban mereka”
“tapi kan kam…u…”
“gak papa. Aku bisa tahan kok. Aku bisa sabar sama ini semua”
“Naaadd…”
“tidur ya…”


Mungkin dari sejagat teman-temannya Nadia hanya aku yang tau masalahnya. Dan itu Cuma secuilll saja. Begitu sulit membujuk Nadia untuk bercerita. Mungkin karena berurusan dengan keluarga sehingga ia begitu sulit terbuka. Beban dari pertengakaran terus menerus antara kedua orang tua Nadia tertumpuk di pundaknya. Nadia memang selalu menjadi ujung tombak pertengkaran itu. Nadia sering tidak mendapatkan hak-hak sebagai anak karena orang tuanya lupa untuk memenuhinya. Dia juga sering menjadi korban keputusan sepihak yang dilakukan orang tuanya. Tapi Nadia selalu menurut, tanpa protes, tanpa mengeluh.
Setelah itu Nadia meringkukan dirinya dibawah selimut, menghadap tembok, membelakangiku. Aku masih scrolling medsos dari laptop. Malam-malam menemani Nadia adalah malam-malam yang membuat pilu. Seperti yang sudah aku duga, saat ini aku mendengarnya. Nadia memang sudah meringkuk tidur. Tapi itu bukan suara dengkur atau suara nafas orang yang tidur. Tapi suara sengguk yang ditahan. Begitu, dia tidur sambil menangis. Tapi apa yang bisa aku lakukan, kadang air mataku keluar sendiri tanpa aku sadari mendengar senggukan Nadia yang ditahan itu (padahal aku sedang scrolling medsos). Namun, sekecil-kecilnya hal yang bisa aku lakukan, akan aku lakukan. Mungkin hal itu adalah menemani malamnya dan mendengar senggukan tertahannya.


Tapi, Tuhan… apakah ini sabar?

12/07/13

Sayang...

00.09 0 Comments



Malam ini kita menahan lapar sayang, padahal kita telah puasa penuh seharian. Ada saja halangan untuk suatu pertemuan, namun lihat ada saja cara agar kita bisa berdua. Ditempat biasa, dengan makanan biasa dan cerita biasa. Itu saja. Mengenalmu sudah sangat lama. Sejak kita SMA bukan ya? Meskipun kita tidak pernah di sekolah yang sama. Kuliahpun kita berbeda, meski sama-sama di Jogja. Tapi kita tak pernah berubah bukan? Menyapa ‘sayang’ satu sama lainnya, meski kita bukan ‘siapa’ satu sama lainnya.

Malam ini kita menahan lapar sayang. Nanti setelah khotbah selesai dan orang-orang beranjak duluan dari barisan agar segera menemukan sandal yang sama dengan yang mereka pakai waktu memasuki bangunan. Mereka akan keluar dari tempat itu ramai-ramai, jika dilihat dari luar orang-orang itu mubal -aku tidak tahu padanan kata yang tepat di bahasa Indonesia- mereka keluar sambil bercakap-cakap. Yang enggan berdesakan atau yang mau bertafakur maka akan keluar belakangan, mereka akan ngaji dahulu di dalam bangunan. Dari luar sayang, suara orang yang mengaji bersahutan di dalam ruangan itu seperti dengungan. Mubal dan dengungan. Bagi orang barat yang membenci Islam melihat ini seperti sarang nyamuk. Bangunan itu seperti sarang nyamuk, untuk itu mereka menamainya sebagai  mosque kependekan dari mosquito. Kejam ya? Tapi kita tidak akan mempermasalahkan ini sayang, yang penting buru-burulah keluar dan temukan sandalmu. Aku menunggu. Kita makan bersama.

Malam ini kita akan bertemu sayang, kita akan makan malam. Bukan itu yang penting. Tapi bertemu denganmunya. Pertemuan kita tidak jauh-jauh dari cerita, curhat, memberi nasehat. Ya, aku selalu ingat dan saat inipun aku sudah tau bahan cerita yang akan kamu utarakan. Aku senang mendegarmu bercerita, aku senang melihat ekspresimu ketika mengatakan suatu kata yang memiliki emosi yang berbeda-beda, aku suka sudut pandangmu dalam melihat masalah, aku suka kamu yang selalu mendengarkanku, menanyakan kabarku, memastikan aku baik, aku suka kalau kita bertengkar karena perbedaan pandangan, bertengkar denganmu tidak pernah membuatku marah, tidak pernah membuatku rendah, tidak pernah membuatku mendendam. Itu kenapa aku betah. 



Malam ini sayang, tentu juga sudah kau tunggu. Seminggu ini kita hanya bisa saling mengirim message, kamu mengatakan bahwa kamu sedang kesal, sedang dirundung galau yang menyebalkan. Kamu selalu bilang, obat galau yang paling lancar hanyalah bertemu denganku, membicarakan semuanya, dan sudah selesai. Meskipun kamu tidak mengantongi nasehat apa-apa dariku. Kamu bilang, sudut pandangku membuatmu bisa melihat pandangan dengan lebih jelas. Dan bertemu denganku adalah moodbooster paling mujarab, karena dalam keadaan apapun, kita pasti tertawa. Ada saja bahan untuk tertawa.

Malam ini sayang, kita sudah menahan lapar. Hingga sedikit lebih malam. Ada hal penting yang ingin engkau ceritakan. Ya, aku memang suka mendengarkan ceritamu. Sebenarnya aku lebih suka mendengarkanmu bercerita masalah pergolakan politik, sosial, dan hal-hal yang berbau filsafat. Aku memuja kecerdasan dan kebeningan batinmu dalam masalah ini. Tapi di sela percakapan ini pasti akan ada cerita tentang pribadi kita yang begini-begini. Di sela percakapan ini pasti ada cerita tentang dia, dia, dan dia. Setiap kita bertemu pasti akan selalu ada orang ketiga yang kamu bicarakan. Pacarmu, mantanmu, pacarmu lagi, mantanmu kemudian. Sebagian ada yang aku kenal, sebagian tidak. Tepi prediksiku mengenai sikap wanita tidak pernah salah. Oh, biar ku luruskan, kamu bukan playboy, bukan. Aku takut pembaca disini menilai negatif dirimu. Kamu orang yang setia, tidak pernah berselingkuh, sangat sabar, dan mau memahami. Mantanmu hanya tiga sampai saat ini. Ah, aku tau semua sifat, perilaku, dan pemikiran mantanmu-mantanmu itu. Bahkan aku tahu setiap detail, setiap detik waktu, setiap inci perjalananmu dengan masing-masing perempuan itu. Betapa tidak, sejak kamu mulai merasa dewasa, mulai ingin belajar tanggung jawab terhadap orang lain, kamu memutuskan untuk pacaran. Saat itu kita kelas 2 SMA. Kamu minta pertimbanganku bagaimana kalau kamu pacaran, aku tidak bisa memaksa orang bukan? Apalagi saat itu kamu bilang sangat menyukainya. Ya, sudah kita berdua mencari cara dan membuat rencana agar ia, perempuan itu menerima sinyal darimu. Tentu akulah mak comblangnya. Akhirnya, satu setengah bulan setelah taktik terencana kita lakukan, kalian jadian juga. Aku sangat bahagia waktu kita. Kita berdua merayakan keberhasilan penembakan itu. Ketika aku menulis ini sekarang, aku merasa aneh dengan kejadian itu, kenapa kita berdua yang merayakan? Haha. Kemudian aku menjadi berteman baik dengan perempuan itu. Kita malah menjadi sahabat. Aku tempat curhat satu-satunya dia ketika ada masalah denganmu, dan kamu, sudah pastilah, kemana lagi kamu akan cerita masalahmu kalau tidak kepadaku?

Hubungan kalian berjalan 3,5 tahun. Hubungan yang setiap detailnya ada aku disitu. Aku menjadi orang ketiga yang diharapkan. Iya, aku tidak salah tulis: yang diharapkan. Perempuanmu akan goyah jika tidak ada aku, kamu juga pasti akan goyah jika tidak ada aku. Sedang aku hanya akan goyah jika melihatmu goyah, juga jika kamu tak menghargai keberadaanku. Perempuanmu memutuskan untuk tidak berhubungan denganmu karena merasa ada hal prinsipil yang tidak sesuai antara kalian berdua, demi menghargai itu, kamu menerimanya. Aku bersyukur, kita masih berhubungan baik. Sampai saat ini, perempuanmu masih menjadi sahabat dekatku. Aku juga bersyukur, meski diantara kalian aku tidak pernah menjadi masalah yang membuat kalian bertengkar. Perempuanmu sangat percaya kepadaku, dan aku memang sangat menjaga, dengan laki-laki manapun. Aku tidak mencoba bermain apapun (meskipun kita saling memanggil sayang, bagi kita itu seperti hi bro..! dan kita tidak pernah menggoda satu sama lain), dan aku memiliki kontrol diri dan kontrol emosi yang sangat baik. Aku bersyukur.

Seterusnya juga seperti itu. Aku tau setiap detail kehidupan cintamu. Aku tau setiap cerita, aku tau setiap keluh kesah. Ah, iya, kau juga tau setiap detail ceritaku. Aku juga pernah menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak kamu kenal. Hanya berjalan 1,5 tahun. Dia tidak terlalu suka kedekatanku denganmu. Untuk itu aku tidak banyak cerita kepadamu tentangnya, atau kepadanya tentangmu. Hanya hal-hal signifikan yang aku ceritakan. Tapi kamu sangat mengenalku, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, aku bukan orang yang mudah memutuskan suatu hubungan. Sejak saat itu aku sudah tidak menjalin hubungan dengan lelaki manapun.

Malam ini kita menahan lapar, dan setelah kenyang kita akan bercerita panjang lebar. Perempuanmu membuatmu bingung, sumbu cemburunya mudah terbakar dan pikiran negatifnya berkeliaran tak karuan. Dia memang Sholihah pandai mengaji, juga memiliki keterampilan pembantu rumah tangga. Iya, ini aku kasar banget. Aku mengatakan ini memang untuk menyindirmu. Sejak kapan kamu memasukkan pandai memasak, mencuci, membereskan rumah, menyiapkan pakaian, dan pekerjaan domestik lainnya sebagai syarat calon isteri? Aku mengenalmu sebagai seorang yang adil menilai perempuan, yang tidak perlu khawatir dan ilfill jika ada perempuan tidak bisa memasak atau mencuci baju sendiri, toh hatinya baik dan perasaannya tulus. Ketika kamu mengatakan kecakapan domestik itu sebagai syarat calon isteri, aku bilang: mau cari isteri apa pembantu rumah tangga? Kita ke agen PRT saja gimana, nanti tak pilihkan? Kamu tertawa.

Malam ini kita lampiaskan lapar, dan kamu lampiaskan kesal. Dalam arti positif tentu saja. Maka aku akan mengatakan, sudah tinggalkan saja. Ini putus nyambung untuk kesekian kalinya. Kamu akan berkata, “aku sudah mempertahankan ini begitu lama, membersamainya, masa aku menyerah dan melepaskannya?” maka aku berkata ”sudah berapa kali Tuhan mengatakan kalau kalian tidak cocok?” kemudian kamu berfikir lagi. Dan beralih membahasku. Kehidupan cintaku tidak berkembang kemana-mana, kamu selalu menasehatiku untuk move on, sudahlah lupakan, cari yang lain, gak usah pemilih, nanti kamu jadi perawan tua, dan seabrek nasehat-nasehat lainnya. Dan kamu akan menyanyikan sedikir reff lagu untuk menyindirku, “aku tak bisa pindah… tak bisa ke lain hati…” kemudian tertawa. Aku menepok jidatku dan menanyakan apa aku ke dukun atau ke ustadz saja biar dicarikan jodoh. Kemudian kita tertawa, dan membahas ustadz siapa kira-kira yang link nya bagus dan bisa dimintai bantuan. Kita membuat list ustadz-ustadz yang kita kenal dan mempertimbangkannya. Kemudian aku protes, “masak aku yang nyari, aku kan perempuan”, “memangnya kenapa kalau perempuan, khatidjah perempuan?”, “gak mau, aku maunya laki-laki yang mencariku. Wanitakan hanya menunggu. Khatidjah juga menunggunya datang kan?”,”hedeeewww….” Katamu sambil geleng-geleng.

Malam ini kita sudah tidak lapar. Malam ini aku sudah mengatakan, hanya kepadamu aku mengatakan, wanita ini sedang menunggu seseorang datang. Hanya kamu yang tau. Tidakkah kau tau, sayang?

11/07/13

Teman Sepermainan

23.20 0 Comments
Real life, real story, real character, real name...



Siva, 3 tahun. Membawa dua batang lidi yang diacungkan seperti membawa dupa dan bernyanyi di teras “tiup lilinnya tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga sekaraaaang jugaaa…”. Hari ini Siva ulang tahun. Dia merayakannya sendiri, dengan caranya sendiri.


Tiwi, 4 tahun. Mencoba bermain dengan bola plastik kecil, melemparkannya ke lubang tiang jemuran yang berbentuk bulat. Yaph! Dia melompat. Dug! Bola itu menatap tiang jemuran dan terpental mengenai kepalanya. Aduh!


Nada, 4 tahun. Bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Kemudian masuk ke rumahku sambil menangis, dia mengadu bahwa temannya berbuat jahat kepadanya. Aku dekap dia sebentar. Satu menit tangisnya reda. Dia kembali bermain dengan teman yang menjahatinya tadi.



Api, 2 tahun. Lelaki sendiri dalam kelompok bermain dan paling kecil. Teman-temannya menyuruhnya bermain sendiri dan tidak ikut bermain dengan mereka. Api menyingkir sebentar dan hanya menonton teman yang lain bermain. Kemudian dia menarik baju bagian bawahnya keatas dan mengantungkannya diatas mulut. Api berlari menuju kerumunan teman bermain yang mengusirnya tadi sambil bersorak. Teman-temannya tadi lari satu persatu sambil berteriak-teriak. Api membuka baju penutup mulutnya dan tertawa kearahku, memperlihatkan giginya yang putih kecil-kecil.


Azalia, 6 bulan. Tidur. Aku berjaga disampingnya. Dia sedikit bergerak dan terbangun membuka mata. Aku hanya melihat wajahnya, Azalia juga balas menatapiku. Dia kentut tiga kali, dut…dut…dut. Kemudian kembali tidur lagi.



Nafisa, 3 tahun. Menyanyikan semuuuaaaa lagu yang ia tahu kepada Azalia. “bocah nakal bocah nakal, njaluk dijamoni. Jamu opo jamu opo jamu brotowali”. Ibuku datang, “Mbah Nung kok klambine koyo bos Romlah?”.


Api, 2 tahun. Melihat ibunya bekerja banyak sekali hari ini, dan memang keadaannya sedang meriang.
Ibuk atit buk, kecel buk? Pi pijeti ya, sing cakit endi buk?” sambil memijat kepala Ibunya.


Aji, 1,5 tahun.  Semua temannya membawa sepeda. Aji juga ingin membawa sepeda. Orang tuanya memberikannya sepeda mini kecil, sekecil dirinya. Tapi rantai sepedanya dibiarkan lepas dari girnya sehingga tidak bisa dipakai. Hanya bisa dituntun. Aji ingin membawa sepeda. Dia membawa sepeda.


Nisa, 8/9 tahun. Personality Disorder (orang tuanya tidak memeriksakan keadaannya, tapi aku rasa bukan autis atau disorder yang biasa dialami anak-anak. Dia menyadari orang lain (atau makhluk lain) selain dirinya yang berbuat kekerasan kepadanya, delusif, self care dan komunikasi buruk. Untuk itu, tidak disekolahkan).
Dek Aza….
Waah, saiki isoh nyeluk dik Aza…” (waah, sekarang bisa memanggil dek Aza) Ibuku yang sedang menggendong Azalia menyahut.
Niki mau pun saget ngodhog banyu, umbah-umbah, nyaponi omah barang (ini tadi sudah bisa masak air, cuci baju, sama nyapu rumah) kata ayahnya.


Azkia, 4 tahun. Kok Mbak Ia jarang ke rumah bu lik lagi?


Semua anak tadi bermain di halaman rumahku, Azalia tentu saja dalam gendonganku. Ibuku datang membawa makanan “kur..kur…kur…” anak-anak buru-buru berkumpul mendekat di teras rumah, makan bersama. Mereka semua tetangga-tetanggaku, setiap hari, pagi-siang-sore selalu ada dihalaman rumah. Nafisa sampai malem karena dia keponakan dan nunggu dijemput orang tuanya. Mereka memang merepotkan, mereka memang penuh kejutan.

17/06/13

Nglalu, Mati Tanpa Teman.

02.14 0 Comments



Kemarin, saat pulang kerumah ibu saya memberitahu bahwa ada kerabat yang meninggal dunia. Saya kaget karena kerabat yang saya panggil Budhe itu masih muda. Anaknya dua berusia SD. Pakdhe saya juga masih ada, bekerja untuk mereka. Setiap lebaran mereka pasti datang kerumah, Ibu dari Pakdhe saya ini dulu yang merawat saya dan saudara saya waktu masih kecil. Pakdhe saya juga sering tinggal dirumah beberapa bulan jika ada pekerjaan di daerah dekat rumah.

Saya tanya kenapa meninggalnya, ibu saya seperti biasa jika bercerita sambil menahan emosi, ia akan memerah wajahnya dan hampir berair mata. Mati Ngantung, budhe saya nglalu, mati gantung diri! Saya kaget lagi, ‘lha kenapa?”. Tidak ada yang tau, tidak ada yang tau kenapa Budhe saya nekat melakukan itu. Pakdhe saya yang ditanyai juga tidak tau, ia merasa keluarganya baik-baik saja, mereka juga tidak habis bertengkar. Ibu saya menyimpulkan kalau budhe saya tertekan karena masalah ekonomi dan masalah keimanan.

Saya terhenyak diam beberapa saya, mengira-ngira bagaimana perasaan budhe pada waktu sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya. Apa ia tidak kasihan sama kedua anaknya yang masih kecil? Sama Pakdhe yang akan mengurus hidup sendirian? Memikirkan bagaimana sedihnya orang tuanya? Bagaimana tetangga-tetangga bersikap terhadap keluarganya? Bagaimana kerabatnya? Bagaimana teman-temannya?

Saya berfikir, kegetiran sehebat apa yang menimpa budhe? Kenapa tidak ada yang tau badai yang menimpa perasaan budhe saya? Kenapa tidak ada yang tau? Kenapa tidak ada yang menguatkannya? Kenapa tidak ada yang peduli? Suaminya? Tetangga2nya? Teman-temannya? Saudara-saudaranya? Kemana mereka? Saya mulai menyalahkan diri saya sendiri.

Yang saya tahu, setelah saya belajar psikologi. Bunuh diri hanya akan terjadi pada orang yang (merasa) tidak memiliki teman, yang merasa tidak dipedulikan.

Kadang kala, hidup memang begitu berat, dalam sudut pandang kita begitu aneh. Pikiran kita tidak tentu. Kadang kita ingin mencari dukungan yang menguatkan diri kita, tetapi kita takut, takut jika kita justru disalahkan, dipojokkan, ditertawakan, atau bahkan keluh kesah kita tak dianggap oleh orang lain. Atau kita takut jika keluh kesah kita justru membuat orang lain repot, ikut sedih. Atau kita melihat orang lain juga sedang berada dalam masalah, sedang sibuk, bahkan sedang bahagia, kita enggan untuk menganggunya. Hingga akhirnya kita menyimpan kekalutan-kekalutan itu sendiri. Kemudian kita merasa sendiri, kita merasa tidak memiliki teman.


Saya sudah beberapa kali berinteraksi dan orang yang memiliki kerapuhan jiwa. Entah bagaimana Allah membuat sketsa hidup saya menjadi sedemikian rupa. Jika ada orang yang mengenal saya pasti tau kenapa saya ada di psikologi, meskipun dulu saya merasa tidak memilih jurusan ini. Kadang saya merasa aneh dengan sketsa yang digambarkan Allah, kadang saya jadi berfikir bahwa lingkungan saya sebenarnya ya yang seperti itu. Bahkan saya tidak bisa berteman dengan baik dengan orang-orang yang kuat jiwanya, penuh semangat hidupnya. Kadang saya merasa bahwa saya berada dalam bagian itu, bagian kerapuhan jiwa.

Dahulu saya sering bermimpi saya bisa menyelamatkan jiwa-jiwa yang rapuh itu. Tetapi melihat keadaan saya yang bukan orang bijaksana, yang tidak bisa memberi nasihat, yang bahkan memiliki kerapuhan jiwa itu sendiri menyadari bahwa itu impian yang  terlalu tinggi. Satu-satunya yang bisa saya lakukan, dengan empati yang saya miliki hanyalah menjadi teman. Seperti Ayu Utami yang sengaja tidak menikah (meski akhirnya menikah juga) untuk menjadi teman para lajang dalam menghadapi lingkungan yang menekan. Saya ingin menjadi teman bagi jiwa yang rapuh, ikut dalam rombongan hati yang mudah patah dan saya ingin sekali mereka tau bahwa mereka tidak sendirian.

Untuk itu, jika kamu juga merasakan kerapuhan jiwa, merasa sendirian, merasa tidak dipedulikan, merasa ingin menyudahi hidup. Demi Saya, demi empati saya, demi puisi-puisi yang selalu saya buat dengan tema ini, bertahanlah hidup lebih lama. Tidak apa hidup sendirian, itu urusan kita. Mari kita buat ruang yang nyaman untuk kita sendiri, ruang yang bisa menerima ketika kita rapuh (karena di luar sana hanya ada ruang untuk kekuatan, semangat, dan positivisme) ruang yang bisa menerima ketika kita lemah, ruang yang bisa menerima ketika kita kehilangan pegangan.


Demi tulisan ini, please tetap bertahan, jangan patah.
Biarkan saya menjadi teman.